tantangan baru

Motivasi setiap oran untuk hidup berbeda, termasuk motivasi untuk bekerja.
Pada awal masuk kerja, yang gw pikirin adalah “manusia bekerja untuk uang”. Ternyata setelah beberapa tahun bekerja, ada yang lain yang patut dikejar yaitu passion atas pekerjaan itu sendiri. Kita akan menderita dan menunggu tanggal gajian kalau motivasi hanya untuk mendapatkan gaji.

Kalau hanya berpikiran untuk mendapatkan gaji, gw akan sangat berbahagia dengan pekerjaan yang lalu. Gaji jalan terus, pekerjaan hamper gak ada. Tapi nilai apresiasi diri yang minim membuat gw akhirnya menyerah. Teman-teman sepertinya berpikiran sebalikny “kerjaan lo kan dikit, ngapain lagi lo nyari2 kerja lagi. Enak dong kalo kerjaan minim, gaji jalan terus.” Nop… gak enak. Ga ada aktualisasi diri, mempertajam pikiran dan kemampuan.

Mungkin maksud manager gw yang lama bagus atau dia menganggap “I’m not good enough.” Hampir semua pekerjaan berusaha ditangani sendiri olehnya dengan alas an selama segala sesuatu masih bisa ditangani sendiri maka dia ingin tangani sendiri jadi tidak merepotkan anak buah. Lalu gunanya gw sebagai staf apa dong?; tukang fax, foto kopi? Orang merasa bosan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya sementara gw bosan karena hamper gak punya pekerjaan.

Akhirnya gw tantang diri gw untuk dunia yang lebih sibuk. Ya memang gw dah ada di comfort zone yang terlalu hebat. Bayangkan saja hampir bertahun berada di suasana “gaji buta”. Comfort zone yang tinggi itu bahkan bisa membuat gw takut banget menghadapi hari pertama masuk kerja di kantor baru.

Memang gw capek sekarang, apalagi ternyata atasan gw sangat workaholic akut. Tapi gw bahagia. Bahagia karena meskipun atasan gw tau bahwa kemampuan gw belum bisa mengejar dia atau punya pengetahuan dasar tentang bidang sekarang tapi dia berikan kesempatan untuk belajar banyak. Istilahnya dalam beberapa bulan ke depan tugas gw bukan bekerja tapi belajar. Banyak hal yang harus dan bisa gw pelajari. Gw dibawa kemana-mana, Ke setiap meeting gw dilibatkan meskipun hanya sebagai pendengar, gw diikutkan ke tiap perjalanan dinas dengan biaya lumayan tinggi hanya agar gw bisa belajar melihat situasi & lingkungan baru. Bayangkan dimana lagi gw bisa dapat tempat belajar yang disatu sisi gw belajar banyak tanpa gw perlu mengaplikasikan ilmu gw dan dibayar gaji pula?

Mungkin dia tipe atasan yang lebih baik dapat SDM yang masih kurang ini itu jadi bisa diasah sesuai dengan keinginannya daripada sudah dapat yang pintar & akan bisa timbul friksi kalau mau “dibentuk”.

Gw tau beberapa bulan ke depan setelah atasan gw merasa gw sudah bisa ngikutin alur atau sudah “terbentuk”, gw akan sangat sibuk dengan pekerjaan gw. Tapi gw senang kalau gw bisa mengaktualisakan diri dna diberi kesempatan untuk mengaktualisasikan diri.

Entah apa alasannya, gw lebih melihat bahwa Tuhan terlalu baik sama gw.

Leave a Reply