Berkacalah pada diri sendiri

Lebih gampang untuk membuat daftar keburukan dan kekurangan orang lain memang.

Contohnya hari ini.

“Ntar siang ikut meeting ya jam 2PM”
“meeting apaan?”
cuma senyum, mungkin dia pikir aku pura2 bego.
“meeting apaan?” aku ulangi lagi.
“kan dah di-email. emang gak dapet emailnya?”
“gak ada tuh”
“wah gak dimasukin daftar karyawan nih.” dan dia telp IT untuk ngecek namaku.

dan tetap tak terjawablah meeting apa yang akan terjadi jam 2PM.
Jam 12.30 PM karyawan bekumpul untuk acara makan-makan kecil. Biasanya agak meriah tapi tahun ini kita mau buat acara sosial atas saran Ibu N. Aku renungkan diantara begitu banyak cerita buruk tentang Ibu N tapi karena acara sosial yang dia rencanakan jadi aku berkesimpulan mungkin ibu N begitu karena karyawan yang kurang performa.

Berselang 1,5 jam atau jam 2 PM itulah jam dimulainya meeting yang entah lah apa judulnya. Aku hanya berusaha tepat waktu tiba di lokasi. Tak ada orang.

Aku masuk ruangan tepat di seberang ruang meeting dimaksud. Tiba-tiba N mengeluarkan suara. Entah ke siapa dia berbicara tapi kalimatnya “mau cari siapa, mau kemana?” aku tak tahu dia bicara padaku, dia pasti tau aku karyawan kantor ini jadi tak mungkin rasanya dia megajukan pertanyaan itu lagipula tak jelas wajahnya melihat ke siapa karena matanya yang sipit sekali.

Dia menghampiri dan bertanya pertanyaan yang sama. Aku hanya menunjuk ruang meeting. Dan dia mengeluarkan kalimat “kamu punya mulut gak?” WOW…. seperti ngomong sama pembantu ya…. Aku seorang Executive, memang masih muda tapi aku bukan pembantunya bahkan pegawainya pun tidak. “kamu jangan jalan-jalan aja. Kerja. Bantu-bantu sana di dalam. Kita semua kerja disini, jangan jalan-jalan aja“. Yak… aku dah panas nih, emang dirimu siapa sih? Gak karena kamu orang Singapore lalu kamu bisa menganggap aku ini bisa kamu maki tanpa alasan. Siapa yang jalan-jalan? Apa menunjukkan kerja adalah dengan angkat meja & kursi. Aku bekerja dengan otak. Justru dia yang tak punya kerjaan, kerjanya cuma komentar tentang betapa dia keberatan kita lewat depan mejanya, ngurusin hal-hal yang gak penting dan digaji pula.

Dan emosi lah aku. Gak sepantasnya orang yang mengaku dirinya petinggi punya sikap seperti pembantu yang ngomongnya asal nyablak. Nyablak kalo lucu, lain cerita.

Dimulailah meeting. Ternyata tentang Public Relation.
Tidak boleh terblok dengan cara pandang apatis & negatif. Aku mendengar ratusan cerita tentang N tapi aku bersikap netral karena aku tidak merasakan dan aku mengambil kesimpulan sendiri bahwa mungkin memang pegawainya saja yang kurang bagus performanya.
Dan cerita tentang bagaimana kita harus bersikap untuk mencitrakan diri. Dan jadilah kita pendosa. Jadi ngomongin si N sama tetangga sebelah tempat dudukku.
“Kalau perusahaan butuh pencitraan diri bagus. itu dimulai dari karyawan yang mencitrakan diri ke luar. Kalau karyawan bermasalah terus sama orang seperti N dan kita para karyawan cerita sama teman kita di luar kantor jadinya citra perusahaan juga yang jelek kan?”
Wah bener banget kalimat temenku itu.
Sementara si pembicara terus berorasi tentang bagaimana bersikap manis dan bersikap layaknya PR, kami justru jadi bersepakat bahwa topik ini dikhususkan untuk N seorang.

Dan keluar dari ruang meeting mulailah aku berceloteh tentang kejadian sebelum meeting. Dan semua karyawan yang denger komentar “memang kantor ini isinya ajaib-ajaib jadi ya…” Wah PR interpersonal kantor aja gak bagus, gimana mau kasih gambaran ke luar?

Dan aku yakin 100% sampai selesai meeting pun N tidak merasa bahwa sebenarnya meeting ini untuk dia seorang.

Leave a Reply