Pontianak trip 10-11 September 2007

just got back from Pontianak…

Memakan waktu 1 jam 15 menit untuk sampai ke Pontianak. Pesawat yang melayani rute Cengkareng (CGK) – Bandar Udara Supadio (PNK) ada 3 penerbangan yaitu Lion Air, Sriwijaya Air, dan Adam Air dengan range harga 260rb-390rb (harga pada tgl itu).

Airport taxi disana memakai patokan harga Rp. 60rb untuk tarif dekat dan terus naik dihitung menurut jauhnya dari ukuran mereka. Tiket taxi dapat dibeli di booth airport taxi. Jarak dari airport ke kantor yang cuma 8 km saja harus rela mengeluarkan uang Rp. 60rb.

Tempat makan yang lumayan ada di dalam museum Kalimantan Barat. Macam2 masakan nasional ada disini. Ada gado2, ayam bakar tapi kalau mau masakan khas Pontianak coba makanan Ikan Patin Asam Pedas. Dengan bentuk seperti gangan atau lempah kuning di Bangka dengan potongan buah nanas tapi berkuah lebih merah.

Menghabiskan semalam di Hotel Santika dengan pelayanan ramah dan lingkungan yang bagus. Tidak sepert seorang teman yang pernah menginap di salah satu hotel yang dari luar selevel Hotel Santika tetapi malam2 “disatroni”.

Aduh kenapa semua orang kantor menyayangkan datang ke Pontianak hari Senin & Selasa. “Seharusnya kesini hari Jum’at saja jadi Jum’at malam jam 9 bisa naik bus ke Kuching, jalan-jalan di Malaysia”.

Perjalanan dari Pontianak ke Kuching melewati Entikong memakan waktu kira-kira 8 jam perjalanan darat dengan ongkos sekitar Rp. 150.000. Tidak diperlukan visa maupun fiskal, hanya paspor. Karena bebas fiskal ini maka jalur ini bisa jadi alternatif untuk transit sebelum memulai perjalan lain ke Kuala Lumpur, Johor Bahru, Singapura atau negara2 lainnya.
Tetapi kalau sengaja menghindari fiskal sih rasanya tidak terlalu berguna juga karena harga tiket Jakarta Pontianak sekitar Rp. 300rb, naik bus Rp. 150 rb. belum lagi tiket ke negara tujuan. Perbatasan buka mulai pukul 06.00 WIB sehingga bus2 dengan tujuan Kuching akan mulai perjalanan pukul 21.00 agar sampai di Entikong pas dengan jam buka perbatasan.
Disana tidak begitu banyak yang bisa dilihat selain kota yang jauh lebih bersih dibanding Indonesia. Tapi lumayan untuk memperkaya pengalaman jalan-jalan.
Yah… kenapa ga kepikiran. Menyesal tiada berguna. Next time will be better i hope.

Belum ke Pontianak kalau belum ke Mie Tiauw Pontianak di Jl Antasari kata orang2 disana. Jadilah saya diseret ke Jl. Antasari setelah sehari sebelumnya tidak jadi karena lebih memilih tempat makan dekat kantor. Mie Tiauw or Kwetiauw sama saja, hanya beda penyebutan. Belum pernah makan Mie Tiauw Pontianak di Jakarta tapi Mie Tiauw yang di Pontianak memiliki tekstur lebih gampang putus daripada tekstur kwetiauw Medan dan hasil masaknya pun lebih coklat.

Selain mie tiauw Pontianak ada pula tempat makan seafood “Pondok Nelayan” di depan A Yani Megamal di Jalan Ahmad Yani. Rame banget kalau makan malam, jadi rada-rada kesal juga. Tapi mungkin ini lah bagian jiwa Jakarta yang tidak sabar karena orang lain sepertinya santai-santai saja. Yang enak sih ikan2 di steam tapi ini membutuhkan waktu yang lebih lama lagi jadi daripada keburu capek nunggu mending makan yang lain. Apabila punya banyak waktu cobalah makan ikan Lais ataupun ikan sema’ yang disebut ikan “salmon” dari Pontianak. susah untuk mendapatkannya maka tak heran harganya mahal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: