Minggu terakhir Maret’08

Priye…priye… (mengutip kata-kata Ray saat penutupan latin dance class)

Hope lights are shining,
through my bedroom window, through my heart, through my eyes, my day,
my weeks, my everything.

Akhirnya mama keluar Rumah Sakit. Belum sembuh memang, rawat jalan lah. Entah apa penyakitnya, dokter tak melihat apapun dari hasil observasi kecuali kolestrol yang berlebih. Mungkin gw juga punya penyakit yang sama karena kepala bagian belakang yang sering berat katanya pertanda kolestrol tinggi.
Ah gawat, badan kurus tapi berkolestrol tinggi. Gawat, sebagai penikmat makanan sejati.
Yang penting mama sudah pulang dari Rumah Sakit deh…
dengan insiden kecil mama maksa pulang sampai bawa-bawa infus ke lorong Rumah Sakit supaya dikasih pulang. Ngambek ceritanya, karena gak dikunjungi dokter satupun padahal dah seharian di Rumah Sakit. Akhirnya dokternya datang sambil minta maaf, dan mama teteup kekeuh minta pulang. Pulang deh dengan resep bejibun di tangan.

“Kenapa gak ambil cuti 2 hari aja, kan lo dapat jatah cuti 2 hari kalau orang tua masuk Rumah Sakit?!”
Halah… bagaimana bergembira juga menikmati cuti atas nama orang tua masuk Rumah Sakit. Dasar orang kantoran yang susah bernafas jadi mencari celah terus supaya bisa cuti hahah…

Kabar gembira akhirnya datang juga, MIOku datang!! cihuiiiiiii………
harapan yang naik turun membuat gw antara senang dan takut kecewa juga. Liat saja apa sabtu ini benar-benar ada MIO beronggok di halaman rumah.
Ugh ga sabar lagi. Paling ga gw punya mainan baru jadi punya kesibukan baru lagi. Gak cuma kerja, ngafalin vocabulary, nginget kunci gitar yang sudah lama gak dipegang, buka2 internet melulu, nonton DVD, fitnes, tidur. Sibuk yang gak penting sepertinya tapi lumayanlah daripada bengong-bengong melulu.

Kenapa hidupku jungkir balik begini sih sekarang. Gak boleh minta terlalu aneh pada Tuhan sepertinya. Permintaan yang minta supaya hidup diberi rintangan sedikit karena hidup yang terlalu datar. Ternyata gak sanggup meskipun buat Tuhan gak ada apa2nya, rasanya dah mau mati megap-megap.

Ampun Tuhan, dah deh aku mau hidup yang datar-datar aja. Warna warni sih cukup memberi makna tapi cukup sampai disitu saja, tak mau lebih lagi. Kalau mau kasih warna warni, warna yang indah saja ya Tuhan. Aku pilih warna merah, biru, putih, jangan kelabu, hitam ya Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: