Palembang 31 Maret-1 April’08

Tugas pertama di tahun 2008.

Dengan percaya diri bisa makan siang di pesawat karena kalau naik Garuda, kita dapat jatah makan ternyata hanya 45 menit perjalanan udara jadi harus puas dengan snack box. Tabahlah menunggu sampai tiba waktunya makan malam saja.

Pempek !! Dah pasti dikejar kalau ke Palembang ternyata sebenarnya masih banyak makanan khas Palembang lainnya yang enak hanya tidak terangkat ke permukaan. Jenis makanan itu dibahas di bawah.

Sekarang pempek yang terkenal katanya adalah pempek Sudi Mampir atau dikenal juga dengan nama Pempek Saga karena berdiri di bekas bioskop Saga. Letaknya persis di seberang Kantor Walikota Palembang. Jenis pempeknya lumayan lengkap tetapi tidak ada pistel (pempek yang berisi sayuran), tekwan. Kekuatan cita rasanya terletak di rasa pedas kuahnya dan untungnya saya pecinta pedas jadi sangat menikmati rasanya. Untuk catatan saja kalau mau bawa keluar kota jangan lupa minta sertakan kelengkapan menemani makan pempek seperti ebi dan sambal karena kalau tidak diminta, tidak disertakan entah karena alasan lupa atau memang sengaja.

Kita makan siang di restoran Pindang Musi Rawas Jl. Angkatan 45 No. 18. Ramai sekali tempat makannya, khususnya jam makan siang untung saja sampai disini jam 11.00 lebih cepat dari jam makan siang umumnya tapi daripada tak dapat temapt. Di restoran ini tidak hanya menyediakan pindang ikan tapi juga ada pindang udang dan pindang tulang. Karena di Pangkal Pinang, Lampung sudah mencicipi pindang ikan jadi sekali ini mencoba pindang tulang saja. Entah karena restoran yang berbeda atau memang cita rasa dari tiap daerah yang berbeda meskipun sama-sama bernama pindang, tiap pindang yang dicicipi bercita rasa berbeda. Yang saya cicipi kali ini tegas segar karena unsur asam kandis. Seandainya perut berkapasitas lebih besar, saya akan pesan pindang udang karena ternyata ukuran udangnya sangat besar alias rada2 nyesel pesan pindang tulang. Udang yang dipakai adalah udang sungai, waktu lihat ukuran udangnya sempat bengong karena terkesima. Waktu ke Jambi saya terkesima dengan udang sungai yang disuguhkan karena ukurannya yang super ternyata kali ini saya lebih terkesima lagi.

Ada juga makanan yang bernama brengkes tempoyak. Seperti yang kita tau bahwa tempoyak adalah berbahan dasar durian. sejauh pengalaman saya tempoyak itu rasanya manis. Tetapi brengkes tempoyak itu berkomposisi ikan patin (gak tau kalau ternyata bisa dibuat dengan bahan daging jenis berbeda) dibalur daging durian yang sudah dicampur dengan sambal kemudian dibungkus daun pisang seperti pepes dna dikukus. Rasanya unik.

Jangan lupa juga makan mie celor. Komposisinya yang jadi kekuatan adalah di kuah campuran santan, udang dan bumbu lain yang bercita rasa kuat. Yang jadi rekomendasi adalah Mie Celor 26 Jl. K.H Ahmad Dahlan No. 2 No. telp (0711) 371742. Tempatnya sih biasa aja, hanya satu ruko tapi katanya jadi langganan keluarga bu Megawati. Satu porsi seharga Rp. 10.000 aja koq.

Ada juga makanan lain yaitu Martabak HAR tapi karena taunya sudah telat dan mengejar pesawat jadi ya kapan-kapan saja deh.

Pas banget check in jam 13.50 dan ternyata jam 14.00 sudah masuk pesawat, fiuh…… almost.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: