Sharing Curriculum

Miris gak sih kalau kita baca berita ada yang meninggal karena busung lapar, ada yang mengais di tempat sampah unuk mengumpulkan sisa makanan yang masih bisa dikunyah dan kondisi lain yang bersangkutan dengan ketidakberdayaan secara ekonomi sementara di lain pihak ada orang yang tiap minggu ke luar negeri hanya untuk menikmati pesta, nongkrong-nongkrong gak jelas yang tak membekas untuk kekayaan batin selain menghabiskan uang?

Saya sedih sekali dengan keadaan seperti itu. Terlalu besar jurang di dunia ini.

Teman diskusi topik ini malah lebih ekstrem lagi. Dia bilang itulah sebabnya kenapa konsep komunis itu diperlukan, karena kalau tidak dipaksa/dipagari kadang-kadang manusia sering terlalu liar. Ya ada benarnya tapi kalau saya pribadi lebih setuju dengan konsep mengasah kemauan manusia untuk pertama-tama melahirkan kesadaran bahwa ada perbedaan di dunia, tumbuhkan keinginan untuk meringankan beban dan saling berbagi.

“Ya itu kan duit gw, terserah gw kali mau diapain tuh duit. Gw foya-foya juga gak minta duit bapak gw, itu duit bapak gw sendiri koq”.

Memang untuk sebagian orang mungkin akan lahir pemikiran rugi deh bagi-bagi duit buat orang yang gak jelas, makanya usaha dong, gw juga maju karena usaha sendiri. Tapi apa salahnya sih berbagi karena kita sudah diberi keberuntungan oleh Tuhan entah lewat orang tua yang berkecukupan atau lewat usaha kita sendiri. Tapi coba deh mencoba berbagi, ada kebahagiaan yang tumbuh karena melihat orang yang bahagia mendapatkan pemeberian dari kita meskipun kita menganggapnya sepele atau habis dalam 1 jam tak berbekas bila dihabiskan begitu saja & hanya mendapatkan kebahagiaan semu.

Ya itu kenyataan & fakta bahwa kita berkuasa atas uang kita sendiri. Tapi pernahkah kita dengar peribahasa yang mengatakan bawa Uang bukan Tuan yang baik? Ya maksudnya kita jangan sampe jadi budak atas materi dunia tapi kita yang punya kuasa penuh atas materi itu sendiri.

Percakapan kecil dengan seorang teman kemarin benar-benar menggugah perasaan. Dia malah menginginkan pendidikan yang berbasis “sharing” untuk calon bayinya. Wah sangat melihat masa depan sekali. Sang bayi belum lahir ke dunia, orang tuanya sudah memikirkan pola yang harus diterapkan dalam mendidik anaknya.

Pola pendidikan memang penting, tidak bentuk formal saja tapi juga yang berbasis EQ.

Seaindainya semua orang bisa mendapatkan kebahagiaan dari membagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: