Cerita di balik pertandingan Thomas

Ada satu kejadian menarik yang terjadi waktu nonton pertandingan thomas secara langsung. Seperti yang kita tau di stadion semua penonton disediakan bangku dan diharapkan duduk sehingga tidak menghalangi pandangan orang di belakang kita. Ya kalo berdiri boleh tapi jangan terus-terusan. Kalo misalnya pihak yang kita dukung bisa menghasilkan angka & kita senang boleh aja teriak-teriak sambil berdiri kalo perlu berdiri di bangku sendiri biar lebih tinggi & keliatan kemana-mana. Tapi dia berdiri lumayan lama sampai beberapa angka yang dihasilkan gak kelihatan ceritanya. Gw bilangin baik-baik supaya dia duduk & dia keliatan sebel banget. Dia ngoceh sendiri tapi gw lebih mending liat ke lapangan karena itu tujuan gw. Menonton pertandingan. Kemudian mulai lagi penyakit berdirinya, bapak-bapak yang disebelah gw kayanya kesel terus dia menirukan gerakan pengen nabok gitu & ngomong juga ke orang yang sama supaya duduk & dia duduk lagi tapi sambil marah-marah. Kalimatnya kurang lebih begini

“kalau mau jelas, bediri di paling depan. jangan disini”

dia merasa paling benar. sebenarnya duduk paling belakang pun tak apa kalau tidak ada di depan yang menghalagi toh dia berdiri bukan karena orang yang di depannya ada yang menghalangi hanya saja memang dia yang tidak memikirkan apakah ada orang yang akan terhalang apabila dia berdiri.

Poin yang menarik disini adalah orang itu merasa paling benar & merasa kamilah yang mengganggu kenyamanan dia menonton. Sementara kalau ditelaah lebih jauh harusnya dia sadar dia yang salah karena bukan satu orang yang menegur tapi 3 orang dan tidak ada diantara 3 orang itu yang saling kenal artinya kami si 3 orang tidak saling membela kepentingan tapi mengurusi kepentingan masing-masing. 3 orang berbeda & tidak saling kenal bisa merasa kesal sampai menegur.

Kadang-kadang manusia merasa dia yang paling benar tapi kalau bisa dilihat pola yang sama yaitu ditegur 3 orang yang berbeda artinya kesalahan . Saya tidak marah, malahan ketawa karena dia tidak menyadari kesalahannya & sibuk marah sampai tidak konsen nonton pertandingan lagi. Hanya saja saya tergelitik untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kita marah atas kelakuan orang yang menegur atas perbuatan yang kita lakukan tapi sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita yang salah hanya karena kita tidak mau merenung & memperbaiki diri.

Bisa diaplikaskan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: