Pengakuan

Pagi ini setelah sekian lama gak ngeliat pelajar tawuran ternyata sekali lagi harus menyaksikan di depan RS Hermina Kampung Melayu sekelompok pelajar bercelana abu-abu saling pukul gak jelas.

Aduh kasian tuh anak diseret dan ditendang oleh segerombolan anak kecil yang sudah merasa mereka gede mungkin. Ada 1 anak yang berani melindungi si korban, gak jelas dia di pihak si pengeroyok atau si terkeroyok, mungkin dari pihak pengeroyok tapi yang netral karena begitu dia melindungi dan yang lain tak memukuli dia. Beberapa motor berhenti. Ada yang karena penasaran nonton, ada yang kesel pengen menghalau pengeroyok, ada yang kesel ngejar si pengeroyok & pengen nabrak. Uh… gw gregetan banget rasanya asik banget kalo tuh anak ditabrak karena keliatan tuh yang bawa motor gregetan banget pengen nabrak tuh anak. Mo jadi apa sih mereka, tiap hari sibuk mikirin ngelawan siapa , bukannya mikirin gimana masa depan gw 5 tahun yang akan datang. Pikirannya pendek banget.

Apa sih yang mereka buktikan? Bahwa mereka telah dewasa dan hebat? Toh mereka gak punya kemampuan bela diri kalau dilihat dari cara mereka berkelahi. Mau menunjukan teritori kekuasaan dengan kekuatan fisik? Rasanya gak cerdas banget. Kita bisa berkuasa atas sesuatu dengan kekuatan pola pikir kita bukan dengan adu otot yang gak jelas juga dimana ototnya. Kayanya otot gw masih lebih keliatan deh… duh masih bangga dengan bicep gw nih hahah…

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk mendapatkan pengakuan. Ada yang jadi positif & bermakna buat orang lain selain diri sendiri ada juga yang salah orientasi dalam melakukan pembuktian bahwa dia bisa diakui.

Ada yang belajar mati-matian dapat nilai bagus supaya bisa diakui sebagai anak yang pintar.

Ada yang ngejar karir abis-abisan supaya hidupnya baik di masa depan.

Ada yang hidup sosial mengejar dharma modal di akhirat

Itu yang positif. Tapi ada juga yang negatif atau gak jelas.

Ada yang berantem untuk sesuatu yang gak jelas hanya untuk memperlihatkan mereka dari kelompok tertentu yang gak berguna buat masyarakat jadi gak ada yang harus dibanggakan sebenarnya.

Ada yang nongkrong sana sini hanya untuk diakui sebagai orang keren yang berpunya padahal sih orangtuanya masih hidup banting tulang untuk mikirin gimana caranya mempertahankan hidup sampai 10 tahun ke depan. Berpunya? Kepada siapa sih itu harus dibuktikan? Kepada Tuhan? lebih baik kita bisa membuktikan kita orang baik ke Tuhan daripada kita membuktikan kepada sesama manusia bahwa kita “gaya” kan? Karena kualitas manusia lebih dari sekedar itu.

Semua orang butuh pengakuan mungkin tapi jalan dari pola pikir yang membedakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: