Sahabat suka & duka

Kata orang kalau mau menguji apakah memang teman yang kita punya adalah sahabat sejati maka ujilah pada saat kita susah. Teman di saat senang banyak tapi teman di saat susah tidak banyak bahkan tidak jarang yang tidak bisa menemukannya.

Tapi ada satu kisah yang unik terjadi pada orang tua gw. Tepatnya ibu/mama. Dia mempunyai “sahabat”. Kenapa gw tulis kata sahabat dengant anda petik, setelah kita baca menyeluruh maka jelaslah kenapa. Setiap hari dia datang ke rumah. Berkeluh kesah penuh dengan masalah hidupnya. Pulang dari rumah jam 10 malam hampir setiap hari. Sampai-sampai gw sang anak dan juga anak yang lainnya tidak bisa menikmati waktu di rumah dengan penuh dengan keluarga sendiri karena orangtua yang sibuk berempati untuk seorang “sahabat” ini dan tidak leluasa di rumah sendiri karena gak bisa ngomong bebas & “jungkir balik” seenaknya.

Segala bantuan diberikan orang tua gw untuknya. Segala doa dipanjatkan untuk mengangkat sang sahabat dari masalah dan bantuan menolong sang sahabat. Banyak doa & tindakan pertolongan mama untuk dia, gw tau banget itu. Tiap hari cari jalan keluar, melakukan hal-hal sampai dia melupakan waktu untuk dirinya sendiri. Layaknya seorang sahabat yang mau berada di saat sudah maupun senang.

Sampai suatu saat sang “sahabat” ini menghilang. Ya …menghilang. Sempat gw tanya ke mama kemana dia kenapa gak pernah muncul lagi sekalipun. Mama cuma bilang lagi sibuk mengurus masalahnya. Setelah lewat beberapa bulan baru gw tau kalau sang “sahabat” ini telah terlepas dari masalahnya, taunya pun dari mama.

Mama keliatan kecewa banget. Tak ada kata terima kasih, tak ada bertemu sekalipun. Gw pun kecewa, kecewa karena tidak bisa membayangkan orang yang seperti sahabat sejati ternyata hanya menjadikan mama sebagai medium pelepasan sedih di saat dia kesusahan saja dan setelah masalahnya selesai kemudian datang kegembiraan lalu dia bergembira tidak dengan mama tapi dengan orang lain lagi. Gw yang di pihak luar aja bisa merasa kecewa, gw bisa membayangkan apa yang dirasakan mama di hatinya. Tak perlulah memberi imbalan atas pertolongan mama, rasa terima kasih saja atau tetap berada untuknya sebagai teman sudah lebih dari cukup untuk mama rasanya.

Mama mengungkapkan kekecewaannya, dia tidak marah hanya kecewa. Gw cuma bilang “udahlah ma, gak usah diomongin lagi topik tentang dia. Yang penting kita sekarang tau dia bisa dianggap sebagai sahabat atau tidak. Dan sekarang sudah ada buktinya”.

Selama yang gw bayangkan & dengar bahwa banyak orang yang berteman di saat senang saja ternyata ada juga cerita bahwa orang hanya memerlukan sahabat untuk masa sulit saja dan tak memerlukan teman untuk saat senangnya.

Ironis dalam kesungguhan mama untuk ada di saat sulit seseorang yang dia anggap sebagai sahabat dan menunjukkan dia sahabat sejati ternyata hanya dimanfaatkan “sahabat” di saat sulit saja.

Ach…nasib gw sama mama gak jauh berbeda, biasanya jadi tempat di saat orang susah aja. Gak pa-pa deh, itung-itung amal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: